SEKILAS INFO
: - Jumat, 22-06-2018
  • 4 bulan yang lalu / Daurah Hifdzut Tanzil (5 juz dalam 10 hari) Acara dilaksanakan pada tanggal 20 February – 2 maret 2018 diikuti oleh 25 santri. Terkait
  • 6 bulan yang lalu / Agenda Akhir semester 1 ini  rihlah dari Pantai Srau Pacitan Ke Ponpes Darul Fithrah. Tanggal 11-13 Des Terkait
  • 6 bulan yang lalu / Penerimaan santri baru dimulai pada 15 Desember 2017 Terkait
Halalkah ? Haramkah ?

[et_pb_section transparent_background=”off” allow_player_pause=”off” inner_shadow=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” padding_mobile=”off” make_fullwidth=”off” use_custom_width=”off” width_unit=”off” custom_width_px=”1080px” custom_width_percent=”80%” make_equal=”off” use_custom_gutter=”off” fullwidth=”off” specialty=”off” admin_label=”section” disabled=”off”][et_pb_row make_fullwidth=”off” use_custom_width=”off” width_unit=”off” custom_width_px=”1080px” custom_width_percent=”80%” use_custom_gutter=”off” gutter_width=”3″ padding_mobile=”off” allow_player_pause=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” make_equal=”off” column_padding_mobile=”on” parallax_1=”off” parallax_method_1=”on” parallax_2=”off” parallax_method_2=”on” parallax_3=”off” parallax_method_3=”on” parallax_4=”off” parallax_method_4=”on” admin_label=”row” disabled=”off”][et_pb_column type=”4_4″ disabled=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” column_padding_mobile=”on”][et_pb_text background_layout=”light” text_orientation=”left” admin_label=”Text” use_border_color=”off” border_style=”solid” disabled=”off”]

Banyak yang bilang obat generik haram karena dibuat dari hal hal yang haram. Terus kalau sakit kanker gk ada obat selain itu bagaimana ?

KONSEP ISTIHALAH MENURUT PERSPEKTIF SYAR’I

  1. Pendahuluhan

Pesatnya perkembangan teknologi dalam dunia moderen kini mengakibatkan dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia seperti, dalam industri makanan, pengebotan, kebutuhan harian dan lain sebagainya. Berbagai isu yang timbul dan mencuat dari perkembangan ini diantara lain berkenaan dengan etika dan status  hukum halal maupun haram pada produk olahan diatas, yang mengakibatkan polemik dikalangan masyarakat luas atas status kejelasan hukum.

Sebagai din (agama) yang sempurna, Islam menjawab berbagai persoalan yang ada. Dalam kontek halal haram makanan, obat-obatan, kebutuhan sehari-hari dan lain sebagainya, islam telah meletakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah tertentu untuk dijadikan garis penentu guna mengukur status halal maupun haram. Antara lain seperti kaedah yang sering  dipaparkan para ulama’ dalam hal ini ialah kaedah istihalah atau bisa disebut juga dengan istilah transformasi atau perubahan. Istihalah adalah perubahan dari sifat yang najis kepada sifat yang suci atau sebalikmya.[1]

Kedah istihalah ini bukan sesuatu yang baru dalam disiplin ilmu fiqih, sebaliknya ia telah banyak dibincangkan oleh para ulama’ salaf dalam karya-karya  terdahulu mereka secara umum[2], namun pengunaan istilah ini  sebagai suatu terminologi yang bersifat teknikal dalam fiqih baru digunakan oleh para ulama’ kontemporer hari ini.

 

  1. Pengertian Istihalah

            Istihalah secara etimologi  ia berasal dari akar kata (حَالَ) yang artinya berubah[3] adapun secara tartib istihalah  adalah masdar fi’il dari kata – استحالة  اِسْتَحَالَ – يَسْتَحِيْلُ yang berma’na perubahan (انقلب) atau (تغير)[4]. Sedangkan dalam disiplin sains, tidak ada satu konsep pun yang sinonim dengan teori istihalah namun terdapat beberapa istilah lain yang mempunyai konotasi yang hampir sama yaitu transformation dan chemical  decomposition.[5] Mirande  Steel  menyatakan transformation bermaksud  menukar  seluruh  rupa atau watak sesuatu.

Secara terminologi para fuqoha’ mendiskripsikan bahwa istihalah adalah perubahan sesuatu bahan kepada suatu yang lain yang meliputi perubahan zat dan sifatnya[6]. Dalam konteks yang lebih khusus istihalah adalah perubahan suatu yang najis kepada suatu yang suci karena perubahan sifat dan zat najis,seperti perubahan arak dan kinzir melalui proses-proses tertentu seperti pembakaran, fermentasi atau perubahan yang terjadi dengan bercampurnya sesuatu yang najis dalam bahan yang suci seperti bangkai atau khinzir yang tercampur dalam lautan garam kemudian diproses sehinga menjadi butiran garam.[7]

Istihalah adalah perubahan terhadap suatu dzat najis  yang menyebabkan hilangnya tanda-tanda kenajisan maupun berubahnya sifat. Proses perubahan  adalah karena hilangnya sifat yang berasal dari dzat awal, kemudian berubah menjadi nama baru dengan sifat yang baru pula.[8]

Wahbah al-Zuhali memapaparkan ketika mengurai kaidah pensucian najis menyebut bahwa istihalah adalah proses perubahan suatu benda yang najis (‘ain najasah) kepada suatu yang suci baik secara tabi’ie atau melalui perantara, beliau memberikan contoh perubahan darah kijang menjadi kasturi, arak yang berubah menjadi cuka baik secara tabi’ie maupun perantara (yang mempercepat proses fermentasi), bangkai binatang atau anjing yang jatuh pada lautan garam sehinga menjadi garam atau kotoran manusia (tinja) yang menjadi abu karena dibakar, lemak najis dijadikan sabun, tanah parit (yang mengalirkan benda najis), yang telah kering dan hilang kenajisanya, atau najis yang ditanam didalam tanah dan telah hilak unsur najisnya setelah beberapa lama terpendam.[9]

Dari penjelasan pengertian diatas maka bisa kita klasifikasi bahwa istihalah mempunyai tiga bentuk:

  1. Perubahan sifat dan dzatnya.

Perubahan ini dapat dilihat misalnya pada darah kijang yang berubah menjadi kasturi, bangkai menjadi butiran garam karena terjatuh dalam lautan garam dan najis binatang menjadi abu dengan sebab pembakaran[10]. Darah kijang, bangkai, najis binatang, serta abu tersebut berubah dari segi sifat maupun dzatnya.

  1. Perubahan sifat saja

Perubahan dari segi sifatnya saja contohnya adalah kulit binatang selain anjing dan babi berubah menjadi suci setelah melalui proses penyamakan. Kulit binatang sebelum disamak adalah najis. Setelah disucikan melalui penyamakan maka ia menjadi suci dan halal dugunakan atau dipakai.

  1. Perubahan dzatnya saja

Perubahan dalm bentuk dzatnya saja adalah seperti arak berubah menjadi cuka. Dalam bentuk fisik (sifat) arak dengan cuka dalam bentuk cairan namun dari segi kandungannya berbeda. Arak adalah minuman yang memabukan sehinga menjadi haram sedangkan cuka adalah suatu yang halal. Dalam istilah sains istihalah pada arak disebut juga dengan perubahan lengkap atau (complete  transformation) yang melibatkan suatu zat dan sifat (sebatian) daripada buah angur (glukosa)  menjadi  arak  (etanol)  lalu  kepada  cuka  (asid

asetik) melalui proses fermentasi.

 

  1. Dalil-dalil Yang Mensyariatkan

Secara umum konsep istihalah lahir dari sumber-sumber hukum islam, baik dari Al-quran, As-Sunah, maupun ijma’ para sahabat. Ini dapat dilihat dari teks-teks dalil  berikut :

Allah Swt berirman dalam surat An-Nahl ayat; 16:

 

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

 “dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”   (Qs. An-Nahel 16:66).

Dari ayat diatas dapat kita lihat bahwa terdapat konsep istihalah,  yang mana konsep istihalah dapat dilihat dari aspek bahwa susu yang dihasilkan oleh binatang ternak adalah halal walaupun ia berada diantara yang najis yaitu darah binatang itu sendiri. Susu itu dihasilkan dari makanan yang dimnakan oleh hewan tersebut kemudian dicerna didalam perut dimana sebagianya ada yang menjadi darah, dan daging dan sebagian yang lain menjadi susu atau kotoran yang dikeluarkan oleh binatang tersebut.

Firman Allah Swt yang menghalalkan madu bunga yang dikeluarkan daripada perut lebah sedangkan lebah tidak boleh dimakan kerana ia termasuk dalam kategori hewan yang dilarang untuk dibunuh oleh Rasulullah Saw[11] serta dianggap sebagai makanan yang jijik:

 

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 “kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (Qs. An-Nahel 16:69).

Sedangkan menurut As-Sunah adalah berdasarkan Sabda Rasulullah Saw mengenai hukum halal memakan organ hati dan limpa hewan ternak sekalipun ia berasal daripada darah:

 

 أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ ، فَأَمَّا المَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالحَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَاْلكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan bagi kamu dua jenis bangkai (haiwan yang mati tanpa perlu disembelih) dan dua jenis darah. Dua jenis bangkai tadi ialah ikan (dan hidupan air yang lain) dan belalang manakala dua jenis darah pula ialah hati dan limpa” ( HR. Ibnu Majah dan Darul Qudni )[12]

             Serta sabda Rasulullah Saw mengenai larangan memakan hewan  Jallalah sekalipun pada asalnya halal dimakan setelah disembelih. Dalam hal ini, hewan  Jallalah yang haram dimakan boleh berubah menjadi halal dengan syarat dikarantina terlebih dahulu dan diberi makanan yang bersih sehingga sifat fisikalnya kembali seperti hewan ternak yang normal.

Sebagai mana riwayat Abdullah bin Umar Ra, Rasulullah bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا.

Rasulullah Saw telah melarang (mengharamkan) daripada memakan (daging) hewan berstatus  Jallalah dan susunya ( HR.Tirmidzi ). Continoue.

[1] Muhammad Rawwas Qal‘ahji, Mu‘jam Lughat al-Fuqaha’( Beirut: Dar alNafa’is, 1996) hal. 105

[2] Wahbah az-Zuhaili, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Darul Fikr, 1997, vol.1) hal. 27

[3] Muhammad bin Mukrim Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab (Dar Sadir, 1990) hal. 185.

[4] Muhammad bin AbiBakr Bin ‘Abd al-Qadir al-Razi, Mukhtar al-Sihah (Beirut: Dar al-Fikr al ‘Arabi 1997) hal. 77

[5] Suatu proses kimiya yang membuat molekul hilang idetitasnya lalu terurai kepada pecahan atom atau molekul yang      lebih kecil. Juga dikenal dengan penguraian zat.

[6] Majlis al-’A‘la  Li al-Syu’un al-Islamiyyah (1309 H),  Mawsu‘ah Jamal ‘Abd al-Nasir fi al-Fiqh alIslami, jilid 5, (tt)  hal. 7

[7] al-Mawsu`ah al-Fiqhiyyah: 213

[8] Ramdhan Hamdun Ali, Istihalah al-asya fi mizan al-fiqh al-islmi, (Mausul: Majalah Kuliyah al-ulum al-Islamiyah, 2013) vol.7 hal.5

[9] Wahbah az-Zuhaili, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Darul Fikr, 1997, vol.1) hal. 100

[10] Wahbah az-Zuhaili, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Darul Fikr, 1997, vol.1) hal. 100

[11] Larangan ini dijelaskan sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

 “Rasulullah s.a.w. telah melarang (mengharamkan) daripada membunuh empat jenis hewan: (yaitu) semut, lebah,                         burung Hud-hud dan burung surad. Dalam riwayat Abu Hurayrah: (dinyatakan) katak menggantikan tempat lebah.”                                                                Lihat sunan Abu Dawud. No:4583.

[12] Lihat  Sunan ibnu majah dalam kitab atimah.No 3314 dan pada Sunan Darul Qudni dalam kitab asribah.No 25

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman Terbaru

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

HASIL UJIAN SELEKSI PPSB 2018

Pendaftaran Santri Baru 2018/2019 telah dibuka

PENGUNJUNG

Arsip