SEKILAS INFO
: - Jumat, 15-12-2017
  • 2 minggu yang lalu / Penerimaan santri baru dimulai pada 15 Desember 2017 Terkait
  • 2 minggu yang lalu / saat ini sedang berlangsung ujian lisan dan ujian tulis Terkait
Terus Bagaimana ? (Istihalah volume 2)

[et_pb_section transparent_background=”off” allow_player_pause=”off” inner_shadow=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” padding_mobile=”off” make_fullwidth=”off” use_custom_width=”off” width_unit=”off” custom_width_px=”1080px” custom_width_percent=”80%” make_equal=”off” use_custom_gutter=”off” fullwidth=”off” specialty=”off” admin_label=”section” disabled=”off”][et_pb_row make_fullwidth=”off” use_custom_width=”off” width_unit=”off” custom_width_px=”1080px” custom_width_percent=”80%” use_custom_gutter=”off” gutter_width=”3″ padding_mobile=”off” allow_player_pause=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” make_equal=”off” column_padding_mobile=”on” parallax_1=”off” parallax_method_1=”on” parallax_2=”off” parallax_method_2=”on” parallax_3=”off” parallax_method_3=”on” parallax_4=”off” parallax_method_4=”on” admin_label=”row” disabled=”off”][et_pb_column type=”4_4″ disabled=”off” parallax=”off” parallax_method=”on” column_padding_mobile=”on”][et_pb_text background_layout=”light” text_orientation=”left” admin_label=”Text” use_border_color=”off” border_style=”solid” disabled=”off”]

Masih bingung mau menggunakan ini itu buat kesehatan dan keseharian. yuk simak kelanjutan kajian istilah berikut ini!

Dalil-dalil Yang Mensyariatkan

Secara umum konsep istihalah lahir dari sumber-sumber hukum islam, baik dari Al-quran, As-Sunah, maupun ijma’ para sahabat. Ini dapat dilihat dari teks-teks dalil  berikut :

Allah Swt berirman dalam surat An-Nahel ayat; 16:

 

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

 “dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”   (Qs. An-Nahel 16:66).

Dari ayat diatas dapat kita lihat bahwa terdapat konsep istihalah,  yang mana konsep istihalah dapat dilihat dari aspek bahwa susu yang dihasilkan oleh binatang ternak adalah halal walaupun ia berada diantara yang najis yaitu darah binatang itu sendiri. Susu itu dihasilkan dari makanan yang dimnakan oleh hewan tersebut kemudian dicerna didalam perut dimana sebagianya ada yang menjadi darah, dan daging dan sebagian yang lain menjadi susus atau kotoran yang dikeluarkan oleh binatang tersebut.

Firman Allah Swt yang menghalalkan madu bunga yang dikeluarkan daripada perut lebah sedangkan lebah tidak boleh dimakan kerana ia termasuk dalam kategori hewan yang dilarang daripada dibunuh oleh Rasulullah Saw[1] serta dianggap sebagai makanan yang jijik:

 

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 “kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (Qs. An-Nahel 16:69).

Sedangkan menurut As-Sunah adalah berdasarkan Sabda Rasulullah Saw mengenai hukum halal memakan organ hati dan limpa hewan ternakan sekalipun ia berasal daripada darah:

 

 أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ ، فَأَمَّا المَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالحَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَاْلكَبِدُ وَالطِّحَالُ

    “Dihalalkan bagi kamu dua jenis bangkai (haiwan yang mati tanpa perlu disembelih) dan dua jenis darah. Dua jenis bangkai tadi ialah ikan (dan hidupan air yang lain) dan belalang manakala dua jenis darah pula ialah hati dan limpa” ( HR. Ibnu Majah dan Darul Qudni )[2]

Serta sabda Rasulullah Saw mengenai larangan memakan hewan  Jallalah sekalipun pada asalnya halal dimakan setelah disembelih. Dalam hal ini, hewan  Jallalah yang haram dimakan boleh berubah menjadi halal dengan syarat dikarantina terlebih dahulu dan diberi makanan yang bersih sehingga sifat fizikalnya kembali seperti hewan ternakan yang normal.

Sebagai mana riwayat Abdullah bin Umar Ra, Rasulullah bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا.

Rasulullah Saw telah melarang (mengharamkan) daripada memakan (daging) hewan berstatus  Jallalah dan susunya ( HR.Tirmidzi )

Dari sudut Ijmak pula, para Sahabat telah sepakat menegaskan hukum cuka yang telah bertukar daripada arak adalah suci dan halal dimakan bahkan ia sangat disukai oleh Rasulullah Saw sebagai mana sabdanya yang diriwayatkan oleh `A’isyah:

 

  1. Pendapat Para Fuqha’ Berkenaan Dengan istihalah
  2. Madzab Hanafi

Para ulama’ madzab hanafi menerima konsep istihalah secara meluas sebagaimana pendapat ibnu abidin yang menegaskan bahwa pensucian sesuatu yang najis dapat dilakukan dengan proses perubahan ‘ain atau dzat, contohnya minyak yang najis apabila dicampurkan kedalam bahan seperti sabun jika dzat najisnya telah hilang maka ia menjadi suci, jadi perubahan tersebut dari satu hakikat kepada hakikat yang lain.[3]

Al-Kasani juga menyatakan bahwa sesuatu yang najis apabila berubah sifat dan zatnya maka najis itu telah hilang, karena najis adalah nama bagi sesuatu yang disifatkan. Apabila sesuatu yang disifatkan itu telah tidak ada sifatnya maka dihukumi tidak ada, seperti arak yang berubah menjadi cuka.[4]

  1. Mazhab Maliki

Pandangan para ulama’ mazhab Maliki dalam permasalah ini sama dengan pendapatnya ulama’ hanafiyah. Sebagai mana yang dipaparkan ibnu Rusyd bahwa arak menjadi suci apabila ia telah berubah menjadi cuka dengan sendirinya atau dengan proses tertentu yang mempercepat perubahan cuka, sebab sifat kenajisan cuka telah hilang.[5]

Al-Dausi juga menyatakan bahwa sesuatu yang berubah kepada yang baik adalah suci, sebaliknya sesuatu yang berubah kepada yang buruk dan kotor adalah najis, umpamanya  air susu anak adam walaupun dari orang yang kafir adalah suci karena berlaku perubahan

kepada yang baik, adapun jika makanan yang keluar dari usus kita (muntah) adalah najis karena berlaku perubahan kepada yang kotor.[6]

Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa bangkai yang najis lalu dinakar menjadi abu maka abu dan asap yang dikeluarkan dari pembakaran adalah suci. Namun madzab maliki tidak mengangap kulit bangkai binatang yang najis walaupun melalui proses penyamakan sebagai suci ( tetep najis walaupun disamak)[7]

  1. Mazab Syafi’i

Dalam mazab safi’I konsep istihalal hanya ditrima dalam tiga perkara saja yaitu: arak yang berubah menjadi cuka dengan secara tabie, kulit binatang yang mati kecuali danjing dan babi yang disamak, sesuatu yang menjadi binatang, seperti bangkai yang berubah menjadi ulat. [8] arak yang berubah menjadi cuka yang disebabkan oleh proses manusia dengan tujuan mempercepat proses perubahan cuka maka tidak diangap suci[9]

  1. Mazhab Hambali

Pendapat mazhab Hambali hampir mirip dengan pendapat mazhab Safi’I, dimana prinsip istihalah hanya diterima dalam konteks arak yang menjadi cuka dengan sendirinya, atau dipindahkan oleh manusia ke tempat yang bisa mempercepat proseses perubahan cuka dengan tanpa niat berbuat demikian (tidak disengaja). Proses pembakaran najis tidak menjadikanya suci, dengan kata lain bahwa abu dan asapnya adalah najis. Tanah liat yang dipenuhu dengsn kotoran binatang yang haram dimakan adalah najis walaupun tempat itu dibakar untuk menghilakan najis. Jika binatang najis jatuh kedalam garam dan berubah menjadi garam, ataupun jatuh kedalam sabun dan menjadi sabun, maka ia tetap najis dan haram.[10]

Ibnu Qudamah juga memaparkan bahwa suatu benda yang najis tidak bisa menjadi suci dengan proses istihalah kecuali arak yang menjadi cuka dengan sendirinya. Adapun proses perubahan dengan cara pembakaran, penyamakan, atau percampuran dengan bahan lain adalah tidak suci.[11]

  1. Mazhab Zahiri

Ibnu Hazm menegaskan bahwa apabila sifat sesuatu yang najis atau haram berubah, maka namanya turut berubah dan sifat najisnya pun telah hlilang, maka ia bukan lagi menjadi bahan yang najis dan haram, sebaliknya ia telah berubah menjadi suatu yang suci. Demikian pula dengan bahan-bahan yang suci yang mana keadaanya telah berubah menjadi najis, maka namanya juga menjadi bahan najis dan haram. Contohnya seperti jus buah-buhan yang menjadi arak, atau arak menjadi cuka, daging babi yang telah dimaka oleh itik yang berubah menjadi sebagian dari daging halal itik, air minum yang berubah menjadi air kencing, makanan yang berubah menjadi kotoran (tinja), kotoran manusia dan air kencing yang digunakan untuk pupuk tanaman atau mempercepat proses keluarnyah buah-buhan yang halal dan lain sebagainya.[12]

[1] Larangan ini dijelaskan sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

 “Rasulullah s.a.w. telah melarang (mengharamkan) daripada membunuh empat jenis hewan: (yaitu) semut, lebah,                         burung Hud-hud dan burung surad. Dalam riwayat Abu Hurayrah: (dinyatakan) katak menggantikan tempat lebah.”                                                                Lihat sunan Abu Dawud. No:4583.

[2] Lihat  Sunan ibnu majah dalam kitab atimah.No 3314 dan pada Sunan Darul Qudni dalam kitab asribah.No 25

[3] Ibn ‘Abidin (1966), Hasyiyah Radd al-Mukhtar,juz. 1, h. 353.

[4] ‘Ala’al-Din AbiBakr bin Mas‘ud al-Kasani(t.t.), Bada’i‘ al-Sana’i‘ fiTartib alSyara’i‘, Beirut: Dar al Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm.442

[5] Ibn  Rusyd  menghuraikan  dalam  Bidayat  al-Mujtahid (Ibn  Rusyd: Bidayat al-Mujtahid:1: 461)

[6] Muhammad  bin Ahmad  bin  ‘Arafah  al-Dusuqi (1980),  Hasyiyat  al-Dusuqi ‘ala Syarhal-Kabir, Kaherah: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, h. 50.

[7] (Wahbah al-Zuhayli: al-Fiqh alIslami1: 109)

[8] Ibd vol:1 hal. 101

[9] Ibd vol;1 hal. 110

[10] Ibd vol;1 hal. 111-112

[11] AbuMuhammad ‘Abd Allah bin Ahmad bin Qudamah (1984), al-Mughni, Beirut: Dar al-Fikr, h. 89.

[12]  AbuMuhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa‘id IbnHazm (1988), al-Muhalla, jilid 1, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, h. 138

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

2 komentar

Niaga Artha Chemcons, Kamis, 2 Mar 2017

I think this is one of the so much important info
for me. And i am satisfied reading your article. However want to commentary on some
basic issues, The website taste is great, the articles is really great http://www.ahlibeton.co.id/p/lantai-3-dimensi.html

Balas

    daruhcom, Sabtu, 4 Mar 2017

    thank you so much for your attention. if you have some more information or anything you want to ask especially about religion, please contact us on

    Balas

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman Terbaru

Pendaftaran Santri Baru 2018/2019 telah dibuka

Arsip