SEKILAS INFO
: - Jumat, 20-07-2018
  • 5 bulan yang lalu / Daurah Hifdzut Tanzil (5 juz dalam 10 hari) Acara dilaksanakan pada tanggal 20 February – 2 maret 2018 diikuti oleh 25 santri. Terkait
  • 7 bulan yang lalu / Agenda Akhir semester 1 ini  rihlah dari Pantai Srau Pacitan Ke Ponpes Darul Fithrah. Tanggal 11-13 Des Terkait
  • 7 bulan yang lalu / Penerimaan santri baru dimulai pada 15 Desember 2017 Terkait

أركان الإيمان هي أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره

Setelah berikrar mengucap dua kalimat syahadat serta berusaha untuk menjalankan pilar lainnya, hal yang tidak kalah penting adalah menata hati untuk menerima hal-hal yang memang manusia tidak bisa menerawang sedikitpun. Hal yang belum pernah mereka lihat dan dengar. Yakni keimanan. Iman adalah bentuk ketakwaan kita kepada Allah yang lebih tinggi dari hanya sekedar islam. Iman disini dimaksudkan bahwa meyakini bahwa Allah ﷻ adalah Dzat yang menciptakan seluruh ekosistem alam beserta isinya. Dialah yang memberi rezeki, mengatur hidup dan mati, segala bentuk ibadah hanya diperuntukkan khusus bagiNya. Tidak ada sekutu bagiNya sama sekali. Yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Dia tidak beranak ataupun memiliki anak. Dan tidak ada yang mampu mengalahkan kekuasaanNya sedikitpun.
Iman juga menuntut kita untuk percaya bahwa ada makhluk yang lain selain manusia yang diciptakan semata-mata untuk beribadah dan mematuhi segala perintahNya. Malaikat. Malaikat adalah hamba Allah yang paling taat. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari unsur cahaya yang teramat lembut, tidak memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan dan tidak berayah atau beribu. Dan tidak pula beranak. Dan malaikat merupakan makhluk yang diciptakan untuk membawa misi dari apa yang telah Allah ﷻ perintahkan beserta dengan segala bentuk jenis perintah dan pekerjaannya.
Melalui kitab-kitabNya, Allah ajarkan kebenaran kepada para hambaNya melalu lisan dan penyampaian para nabiNya. Al-Qur’an adalah pedoman kita sebagai umat muslim. Wajib bagi kita mengamalkan apa yang ada didalamnya dan mengimani setiap kisah yang telah disampaikan Allah dalam kalamNya. Dari situ kita mempelajari setiap kesalahan kaum-kaum terdahulu sebagai bentuk peringatan bagi manusia dalam mensikapi dunia serta menjadikan motivasi ibadah agar lebih giat setiap kita membaca kisah-kisah para ‘abid ( ahli ibadah ) yang Allah sebutkan dalam Qur’anNya. Disamping itu juga kita harus yakin bahwa al-Qur’an adalah penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Ada Kitab Zabur yang diberikan kepada Nabi Daud, Taurat pada Nabi Musa, Injil pada Nabi Isa, serta shuhuf-shuhuf yang diberikan pada Nabi Ibrahim dan Musa ‘alaihimus salam. Beriman akan semua kitab-kitab samawi adalah sebuah keharusan yang harus dipegang seorang muslim dan termasuk dari kesempurnaan dari rukun iman.
Yakin dan percaya bahwa nabi dan rasul sebelum Rasulullah ﷺ benar adanya adalah bagian dari rukun iman juga. Mereka juga mengemban risalah yang di perintahkan Allah untuk kaum mereka, keluarga, dan umat secara keseluruhan. Tidak menafikan satu orang dari mereka. Percaya bahwa sebelum nabi Muhammad diutus, ada ribuan orang yang Allah ﷻ utus dengan berbagai mukjizat yang mereka dapatkan. Namun mukjizat tersebut lantas tak membuat kaum mereka langsung taat dan beriman. Hanya sedikit yang bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Maka, tak heran bahwa hidayah tak bisa didapat dengan kita mencari di belahan bumi manapun. Tak juga menjamin bahwa mereka yang bertemu langsung dengan para nabi dan rasul bisa luluh hati mereka dan berserah diri kepada Allah ﷻ. Ini menjadi dalil bahwa iman tidak bisa diturunkan kepada keluarga, sahabat, atau kerabat dekat. Masing-masing memiliki tanggung jawab atas keimanan mereka.
Iman yang tak kalah penting adalah keimanan kita terhadap hari Kiamat. Hari dimana semua amal akan dimintai pertanggung jawaban. Hari dengan segala kejadian yang ada di dalamnya yaitu hasyr (digiring dan dikumpulkannya makhluk) di padang makhsyar, adanya hisab (kalkulasi amal), balasan amal (jaza’). Kesemua itu akan dilewati setiap manusia dimuka bumi ini kecuali bagi mereka yang diberi rahmat oleh Allah ﷻ yang mana kesemua itu akan menjadi penentu tempat akhir bagi kita. Yaitu Jannah dengan segala kenikmatannya atau Naar Jahiim dengan segala siksaannya.
Apa yang ada dimuka bumi ini telah menjadi ketetapan Allah. Segala kebaikan serta musibah yang Allah turunkan sebagai bentuk peringatan dan ujian tak lepas dari apa yang telah Ia gariskan dalam Lauhul Mahfudz-Nya. Inilah yang disebut sebagai beriman pada Qodho’ dan Qodar. Semua takdir telah Allah tetapkan. Baik atau buruknya takdir adalah dari Allah ﷻ. Namun manusia diberi hak untuk memilih dan diberi kesempatan untuk berikhtiar diselain ketetapan-ketetapan yang paten yang tidak bisa diubah sama sekali. Wajib bagi kita sebagai seorang yang mengaku beriman ridha atas apa yang telah digariskan dan ditetapkan dalam takdir kehidupan. Tidak boleh menyalahkan siapapun dan apapun. Cukup bersabar dan berserah diri serta tawakal padaNya atas apa yang telah ia terima.
Inilah keenam rukun iman yang Allah ﷻ wajibkan atas hambaNya untuk diyakini. Iman layaknya seorang yang sudah diambang jurang. Jika berpegang pada ranting yang rapuh maka jatuhlah ia dan jika ia berpegang pada dahan dan kokoh selamatlah ia dengan berusaha memegangnya dan memanjatnya sampai pada tepian yang aman. Wallahu a’lam.
Ibnu Ristan

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman Terbaru

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

HASIL UJIAN SELEKSI PPSB 2018

Pendaftaran Santri Baru 2018/2019 telah dibuka

PENGUNJUNG

Arsip