SEKILAS INFO
: - Sabtu, 08-05-2021
  • 8 bulan yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
AL-KHOUFU | Rasa Takut

 

 

Sebagian besar umat manusia khususnya umat Islam rasanya sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman-Nya yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kmungkinan-kemungkinan bahwa dirinya terjerembab dalam siksa kubur dan siksa akhirat, masuk dalam kobaran api neraka tanpa ada peluang sedikitpun untuk selamat. Berikut bahasan singkatnya.

Bahasa “TAKUT KEPADA ALLAH” yang sering didengar atau bahkan sering meluncur dari lidahnya, seakan menjadi bahasa biasa yang datar tanpa makna. Takut kepada Allah tidak lagi menjadi rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa.

Mestinya rasa takut berkecamuk dalam diri seseorang ketika mendengar ayat-ayat atau hadisthadist tentang siksa neraka dengan berbagai jenisnya yang mengerikan.

Ya, mengapa orang tidak takut mendengar firman Allah semisal dibawah ini? :

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:

“Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan amal) terhadap diriku.

Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tak memberi manfaat kepadaku. Kekuasaanku pun telah lenyap dari padaku.”

(Pada saat itulah Allah berfirman):

Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian gelandanglah ia kedalam api neraka (Jahim) yang menyala-nyala. Kemudian masukkanlah kedalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin, maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini disini.

Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (al-Haqqah: 25-37)

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir IV/535, surat al-Haqqah   menerangkan bahwa ayat-ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara (kelak di Akhirat -Pen). Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah, dari arah tangan kirinya. Ketika itulah dia benar-benar menyesal. Dia mengatakan penuh penyesalan:

“Andaikata saja saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apa hisab (perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya), dan andaikata saja saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.”

Ibnu Katsir selanjutnya menukil pernyataan imam adh-Dhahhak, Muhammad bin Ka’ab, ar-Rabi’ dan as-Sudi, bahwa yang dimaksud dengan ungkapan orang-orang sengsara yang dikemukakan oleh Allah tentang harapan mereka akan kematian itu adalah kematian yang tidak ada lagi kehidupan sesudahnya.

Ibnu Katsir juga menukil perkataan imam Qatadah bahwa artinya: Mereka berharap kematian (tidak hidup lagi -pen) dan tidak ada sesuatupun yang lebih mereka bend melainkan dunia.

Tentang firman Allah Ta’ala

Peganglah dia lalu belenggulah tangan ke lehernya, kemudian gelandanglah ia ke dalam api neraka (Jahim) yang menyala-nyala. (al-Haqqah: 30-31)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tersebut menjelaskan ayat ini bahwa:

Allah memerintah kan kepada Malaikat Zabaniyah untuk menggelan dang dengan paksa pesakitan (orang yang sengsara/tidak beriman) ini dari padang Mahsyar seraya meletakkan belenggu pada lehernya kemudian mendorong dan melemparkan nya kedalam neraka jahannam.

Selanjutnya mengenai firman Allah :

Kemudian masukkanlah dia ke dalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (al-Haqqah: 32).

Ibnu Katsir menukil perkataan Ka’ab al Ahbar bahwa tiap-tiap untaian mata rantai tersebut besarnya seperti besi di dunia.

Sementara al-Aufi mengemukakan riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Juraij (tentang yang dimaksud 70 hasta) adalah hastanya malaikat. Dinukil oleh Ibnu Katsir IV/535.

Sedangkan arti (faslukuuhu): Ibnu Katsir mengemukakan perkataan Ibnu Juraij bahwa Ibnu Abbas berkata:

Besi rantai itu dimasukkan dari arah pantatnya, lalu keluar melalui mulutnya, kemudian para pesakitan ini ditata dalam besi rantai tersebut seperti belalang yang ditusuk berjajar dengan kayu ketika di panggang api.

Syeikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as Sa’di, Beliau adalah seorang tokoh ulama dari Saudi Arabia yang wafat pada tahun 1376 H. berkomentar tentang ayat tersebut, menerangkan bahwa:

Mata rantai itu berasal dari neraka Jahim yang panasnya mencapai puncak panas. Kemudian arti (Faslukuuhu) adalah:

Susunlah para pesakitan (orang-orang tidak beriman) ini ke rantai tersebut dengan cara; rantai tersebut dimasukkan melalui duburnya hingga keluar dari mulutnya kemudian gantunglah padanya. Maka orang sengsara ini terus menerus disiksa dengan siksaan yang sedemikian mengerikan ini.

Betapa dahsyat siksaan terhadap dirinya itu. Betapa menyesalnya dia dengan penghinaan yang sedemikian rupa ini. Sesungguhnya sebab yang menjadikannya sampai pada kedudukan demikian ialah karena:

Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. (al-Haqqah: 33)

Ia kafir kepada Rabbnya, menentang Rasul-Nya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasul-Nya tersebut. Taisir al-Karim ar-Rahman juz II.

Ia tidak menunaikan apa yang menjadi hak Allah, tidak taat kepada-Nya dan tidak beribadah kepada-Nya. Tafsir Ibnu Katsir IV/536.

oleh: Ahmas Faiz Asifuddin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip