SEKILAS INFO
: - Jumat, 10-09-2021
  • 1 tahun yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
Fatwa-Fatwa Para Ulama Seputar Membawa Anak Kecil ke Masjid

Tak jarang kita dapati anak kecil dibawa oleh ayahnya ke masjid untuk melaksanakan shalat secara berjamaah. Akan tetapi, kehadiran anak kecil di dalam masjid menyebabkan kegaduhan yang dapat mengganggu kekhusyukan jamaah yang lain. Para jamaah masjid acap kali bersilang pendapat, kalau dibolehkan mengganggu sholat, tapi juga tak sedikit yang berpendapat, masak pembelajaran anak agar dekat dengan masjid, tidak diperbolehkan. Bagaimana penjelasan ulama tentang hal ini?

Ar-Ramli Al-Anshari asy-Syafi’I menjelaskan,

قَوْلُهُ: (وَيُمْنَعُ الصِّبْيَانُ إلَخْ) أَفْتَى وَالِدُ النَّاشِرِيِّ بِأَنَّ تَعْلِيمَ الصِّبْيَانِ فِي الْمَسْجِدِ أَمْرٌ حَسَنٌ، وَالصِّبْيَانُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مِنْ عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى الْآنَ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ وَالْقَوْلُ بِكَرَاهَةِ دُخُوْلِ الصِّبْيَانِ الْمَسْجِدَ لَيْسَ عَلَى إطْلَاقِهِ بَلْ مُخْتَصٌّ بِمَنْ لَا يُمَيِّزُ لَا طَاعَةَ فِيهَا وَلَا حَاجَةَ إلَيْهَا.

“Perkataannya, ‘Anak-anak dilarang…’ Walid an-Nasyiri memfatwakan bahwa pengajaran anak-anak di masjid adalah perkara yang baik. Anak-anak bebas memasuki masjid sejak masa Rasulullah n hidup hingga kini tanpa ada yang mengingkari. Pendapat yang memakruhkan masuknya anak-anak ke dalam masjid tidak berlaku secara mutlak. Akan tetapi, kemakruhan ini berlaku bagi anak-anak yang belum mumayyiz (membedakan hal yang baik dan yang buruk) yang belum terbebani ibadah dan hajat terhadapnya.” (Hasyiyatu ar-Ramli ‘Ala Asna al-Mathalib Syarhu Raudhi ath-Thalib, Abi al-Abbas Ahmad ar-Ramli al-Anshari, 186).

Imam Malik ketika ditanya mengenai membawa anak ke masjid, beliau menjawab,

إنْ كَانَ لَا يَعْبَثُ لِصِغَرِهِ وَيَكُفُّ إذَا نُهِيَ فَلَا أَرَى بِهَذَا بَأْسًا ، قَالَ : وَإِنْ كَانَ يَعْبَثُ لِصِغَرِهِ فَلَا أَرَى أَنْ يُؤْتَى بِهِ إلَى الْمَسْجِدِ

“Apabila dia tidak bermain walaupun usianya masih kecil, dan dia akan berhenti apabila dilarang bermain, maka aku berpendapat hal ini (membawanya ke masjid) tidak mengapa. Akan tetapi, apabila dia masih bermain karena usianya masih kecil (padahal sudah diingatkan), maka aku tidak berpendapat boleh membawanya ke masjid.” (Al-Mudawwanah al-Kubra, Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir, 252)

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelasakan,

لَا يَجُوْزُ إِحْضَارُ الْأَوْلَادِ لِلْمَسْجِدِ إِذَا كَانُوْا يَشُوْشُوْنَ عَلَى الْمُصَلِّيْنَ، لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَيَجْهَرُوْنَ فَقَالَ لَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقُرْآنِ أَوْ قَالَ فِي الْقِرَاءَةِ. وَإِذَا كَانَ التَّشْوِيْشُ مَنْهِيًاً عَنْهُ حَتَّى فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَمَا بَالُكَ بِلَعْبِ الصِّبْيَانِ أَمَّا إِذَا كَانُوْا لَا يَشُوْشُوْنَ فَإِحْضَارُهُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ خَيْرٌ، لِأَنَّهُ يُمَرِّنُهُمْ عَلَى حُضُوْرِ الْجَمَاعَةِ وَيُرَغِّبُهُمْ فِي الْمَسَاجِدِ فَيُأَلِفُوْنَهَا .

“Tidak boleh membawa anak-anak ke masjid apabila kehadiran mereka mengganggu jamaah lain yang shalat. Karena pernah suatu ketika Nabi n mendapati para sahabatnya sedang shalat dengan mengeraskan bacaannya. Maka Rasulullah n bersabda, ‘Janganlah sebagian dari kalian mengeraskan bacaan al-Qurannya atas bacaan sebagian yang lain’.

Apabila sesuatu yang mengganggu dilarang, bahkan hingga bacaan al-Quran, maka anak- anak yang ramai lebih berhak untuk dilarang. Namun apabila mereka tidak mengganggu, membawa mereka ke masjid adalah sesuatu yang baik. Karena membiasakan mereka untuk shalat berjamaah, agar tertarik dan terikat hatinya dengan shalat berjamaah (shalat berjamaah). (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 12/397)

Para ulama yang berada di Lajnah Daimah kerajaan Saudi menjelaskan,

إِذَا كَانَ الطِّفْلُ مَمَيِّزًا شُرِعَ إِحْضَارُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِيُعْتَادَ الصَّلَاةَ مَعَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ

Apabila anak telah mumayyiz, maka disyariatkan untuk membawanya ke masjid, Agar terbiasa melaksanakan shalat bersama jamaah kaum muslimin.

Mereka melanjutkan,

أَمَّا إِذَا كَانَ الطِّفْلُ غَيْرَ مُمَيِّزٍ فَالْأَفْضَلُ أَلَّا يَحْضُرَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِأَنَّهُ لَا يَعْقِلُ الصَّلَاةَ وَلَا مَعْنَى الْجَمَاعَةِ، وَلَمَّا قَدْ يُسَبِّبُهُ مِنَ الْأَذَى لِلْمُصَلِّيْنَ.

Adapun anak yang belum mumayyiz, maka lebih utama tidak membawanya ke masjid. Karena dia tidak memahami shalat dan makna jamaah. Dan terkadang dia menjadi penyebab terganggunya jamaah yang lain. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’, 31/263)

Syaikh al-Albani menyampaikan,

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيْثِ جَوَازُ إِدْخَالِ الصِّبْيَانِ الْمَسَاجِدَ وَلَوْ كَانُوْا صِغَارًا يَتَعَثَّرُوْنَ فِي سِيْرِهِمْ حَتَى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْمُحْتَمِلِ الصِّيَاحِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَقَرَّ ذَلِكَ وَلَمْ يُنْكِرْهُ بَلَ شُرِعَ لِلْأَئِمَّةِ تَخْفِيْفُ الْقِرَاءَةِ لِصِيَاحِ صَبِي خَشْيَةٍ أَنْ يَشُقَّ عَلَى أَهْلِهِ .

“Dalam hadits-hadits ini (hadits-hadits mengenai Rasul bersama anak kecil ketika shalat) menunjukkan bolehnya memasukkan anak ke masjid-masjid. Walaupun mereka masih kecil dan masih tertatih saat berjalan, bahkan kemungkinan mereka akan menangis keras. Karena Nabi n menyetujui hal itu, dan tidak mengingkarinya, bahkan beliau menyariatkan untuk para imam agar meringankan bacaannya ketika ada tangisan bayi, karena dikhawatirkan akan memberatkan ibunya.” (Ats-Tsamaru al-Mustathab, Nashiruddin al-Albani, 761)

Dari sekian fatwa-fatwa para ulama’, semoga kita tercerahkan. Wallahu a’lam

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip