SEKILAS INFO
: - Kamis, 04-03-2021
  • 6 bulan yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
MEMBEDAH SURAT AL-KAUTSAR | Part I

 

Sesungguhnya Kami telah memberimu al-Kautsar. Maka sholatlah untuk Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus (QS. 108 :1-3).

Mukaddimah

Salah satu surah yang sering disampaikan khatib dalam momen i’edul adlha adalah surah al-Kautsar, tepatnya pada ayat ketiga. Kali ini penulis mencoba untuk mengupas kedalaman kandungannya. Semoga kita mendapatkan ibroh dari penjelasannya, amien.

Surah al-Kautsar — dalam mushaf– ditempatkan pada urutan ke-108 setelah surah al-Ma’un. Surah ini merupakan surah terpendek dalam al-Qur’an. Terdapat keserasian yang sangat indah antara dua surah ini. Keduanya memiliki pola hubungan inversi. Pada surah al-Ma’un dijelaskan tentang orang munafiq, si pendusta agama dengan tiga sifat yang menonjol; yakni kikir dan menghalangi bantuan, melalaikan sholat dan riya’,.

Sedangkan dalam surah yang dibahas ini, dibicarakan tentang perintah untuk melaksanakan sholat yang ditunjukan oleh kata fasholli (maka sholatlah) sebagai lawan dari melalaikan sholat dalam surah al-Maun. Disusul dengan perintah melaksanakanya secara ikhlas karena Allah yang difahami dari kata lirobbika (untuk tuhanmu) sebagai lawan dari sifat riya’ dalam surah al-Maun. Kemudian anjuran untuk loyal terhadap sesama dan suka memberikan bantuan yang ditunjukan oleh kata wanhar (dan sembelih kurban) –sebagai lawan dari sifat kikir dan suka menghalangi bantuan dalam surah sebelumnya.

Asbabun Nuzul, sebuah pelajaran berharga

Terdapat beberapa riwayat hadits yang menerangkan latar belakang turunnya ayat dalam surah al-Kautsar. Diceritakan oleh Ibnu Abi Hakim yang bersumber dari As-Suddi bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki berarti putus keturunannya. Ketika putra Rasulullah (menurut riwayat al-Baihaqi, putra Rasullah dimaksud adalah Qasim) meninggal dunia, orang-orang quraisy tersebut (antara lain Al-Walid bin Mughiroh, ‘Ashi bin Wail, Abu Jahl) berkata bahwa Muhammad telah terputus keturunnanya. Yakni tidak ada lagi sebutan tentangnya melalui putra-putranya setelah wafat kelak. Keadaan seperti ini mereka anggap sebagai cacat dan cela yang selalu mereka gunjingkan dan dijadikan alat untuk tidak simpati kepada beliau dari para pengikutnya.

Sedikitnya jumlah kaum muslimin, mereka anggap sebagai bukti bahwa ajaran yang dibawakan Rasul adalah sesat karena sekiranya ajarannya benar, maka pastilah orang-orang akan berbondong-bondong mengikutinya hingga jumlah pengikutnya pasti banyak tidak sedikit seperti waktu itu. Parahnya penderitaan kaum muslimin, mereka saksikan sebagai kekalahannya. Memang, baik dari segi jumlah maupun kekayaan materi, kaum muslimin kalah jauh dibandingkan orang-orang kafir Quraisy ketika itu. Ditambah lagi dengan ejekan dan cemoohan yang dilontarkan orang-orang kafir tersebut, semakin –secara psikologis– membuat mereka sedih dan hilang rasa percaya diri.

Dalam suasana seperti itulah Allah SWT membangkitkan semangat Nabi dan pengikutnya seraya menegaskan bahwa sesungguhnya yang dianggap remeh oleh orang-orang kafir Quraisy adalah sesuatu yang agung dan berharga mahal di sisi Allah. Dia membantah anggapan negatif kaum kafirin dan menegaskan bahwa Rasul dan pengikutnya akan mendapatkan kemenangan. Sesunggunya yang terputus bukanlah Muhammad, melainkan mereka sendiri. Orang-orang kafir yang telah mencemooh itulah, orang-orang yang putus. Untuk itu, Allah berfirman:

‘Sesungguhnya Kami telah memberimu ‘al-Kautsar’. Maka sholatlah untuk Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang membenci ialah yang terputus’ (QS. 108:1-3)

Tinjauan Bahasa dan Beberapa Pandangan Ahli Tafsir

Kata inna dalam bahasa arab dipakai sebagai pernguat suatu pernyataan yang hendak disampaikan merupakan sesuatu yang bersifat penting. Sedangkan sebagai pengguna subyek kami (nahnu) sehingga menjadi innaa, dalam kaidah bahasa arab berfungsi sebagai litta’dzim (untuk mengagungkan), artinya Alloh SWT bermaksud mengagungkan |diri-Nya dengan penggunaan kata ganti ini, wallohu a’lam.

Dr. Quraish Shihab dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa penggunaan kata kami untuk Allah dalam al-Qur’an menunjukan adanya keterlibatan pihak luar yang selaras dengan ketentuan sunnahtullah. Ini berarti bahwasannya Allah SWT, dalam memberikan sesuatu yang banyak ‘al-Kautsar’, tidak secara langsung Allah sendiri yang menyampaikan, melainkan melalui perantara-perantara atau asbab kauniah yang ada.

Penggunaan kata ‘A’tha selain dalam surah ini, juga bisa ditemukan dalam al-Qur’an di surah lainnya, seperti QS 38: 39, QS. 53: 34, QS. 20: 50, QS. 92: 5, dan beberapa surah lainnya yang memuat kata yang seakar dengannya. Secara umum kata ini berarti ‘memberi dengan sifat yang berkesinambungan’. Sedangkan kata ‘ka’ menunjukan seorang lawan bicara, yakni pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai khitab dalam ayat tersebut.

Kautsar, kata inilah yang mendapat tanggapan paling banyak dan beragam diantara makna kata lain dalam surah ini. Secara bahasa, kata ini ‘sangat banyak dan melimpah’. Kata ini merupakan kata ungkapan hiperbolik dari kata katsir yang berarti ‘banyak’ (kamus ‘Ashry’, hal 1525).

Pengguna huruf al dalam al-Kautsar dalam kaidah bahasa arab dipakai untuk menunjukan ma’rifat atau khusus/ tertentu. Artinya, kata tersebut telah diketahui oleh pendengarnya dan segera dapat dipahami. Huruf al dalam bahasa arab sama fungsinya dengan kata ‘the’ dalam bahasa inggris.

Ulama-ulama tafsir mengemukakan sekian banyak pendapat mengenai al-Kautsar. Al-Qurthubi misalnya, tidak kurang dari 15 definisi yang dikemukakan, seperti mu’jizat, syafa’at, ummat yang banyak, shalat 5 waktu. Kenabian, kitab al-Qur’an dan lain-lain. Demikian sebagaimana ia ungkapkan beberapa pendapat adalah mereka yang mengartikan al-Kautsar.

Pendapat yang sangat terkenal adalah mereka yang mengartikan al-Kautsar dengan ‘sungai di surga’. Dalam kamus ‘Ashry, kata ini juga salah satunya bermakna demikian (ibid ). Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam karya besarnya Tafsir Qur’an (Tafsir Ibnu Katsir, IV/598-599).

Selain itu juga didukung oleh Imam Jalaluddin dalam Tafsir Jalalainnya. Beliau melandaskan urainya dengan beberapa riwayat hadits, di antaranya : ‘Suatu ketika Rasulullah istirahat (berbaring) dan kemudian bangun seraya tersenyum kepada para shahabat di sekelilingnya. Maka para shahabat pun bertanya : ‘Mengapa engkau tertawa (tersenyum riang) Yaa Rasulullah ? Rasul menjawab : ‘ sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku sebuah surah. Kemudian beliau membacakan ‘Bismillahirrahmanirrahiim Inna a’tahainaa kal kautsar… (sampai selesai) kemudian beliau bertanya : ‘Tahukah kalian apakah al-Kautsar?’ mereka menjawab : ‘Allah dan RasulNya yang tahu.’ Rasulullah lalu menjelaskn : ‘Ia adalah sungai yang Allah anugerahkan kepadaku di surga, disana terdapat kebaikan yang banyak….’’’ (HR.Ahmad dan Muhammad bin Fadlil dari Mukhtar bin Falfal dari shahabat Anas bin Malik.

Pendapat kedua menyatakan bahwa al-Kautsar adalah an-Nubuwwah yaitu kenabian kepada Nabi Muhammad SAW. Ini dikemuka-kan oleh Ikrimah sebagaimana Muhammad Abduh lebih cenderung mengikuti pendapat kedua ini. Pendapat berikutnya, seperti Abu Bakr bin Ayyasy menyatakan al-Kautsar adalah pribadi-pribadi para shahabat serta pengikut Nabi hingga kiamat. Sedangkan menurut Ibnu Kisan, ia (al-Kautsar) adalah sifat Nabi yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain atau (itsar).

bersambung …

Written By: Mustofa

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip