SEKILAS INFO
: - Kamis, 03-04-2025
  • 4 minggu yang lalu / Hadirilah !!! Tarawih bersama Para Imam Masjid Ponpes Darul Fithrah dengan 4 Riwayat Bacaan. Setiap hari selama Ramadhan
  • 4 minggu yang lalu / Bingung cari bahan kultum Ramadhan? Disini tempatnya
  • 8 bulan yang lalu / Pengambilan Sanad Al Qur’an Qira’ah Imam Ibnu katsir (Riwayat Al Bazzi & Qunbul) Online bersama Ust Khoirul H. Faturrozy, info hub. 089667586200  
Sanad dan Ijazah

Perbedaan Sanad dan Ijazah

Banyak diantara para pelajar ataupun pengajar khususnya pada bidang Tahfidzul Qur’an yang masih awam terkait istilah Sanad dan Ijazah. Perlu diketahui bahwa Sanad dan Ijazah adalah dua hal yang berbeda, baik saat disematkan untuk Al Qur’an seperti sanad Al Qur’an ataupun disematkan pada kitab.

Disini penulis akan mencoba menguraikan secara singkat terkait Sanad dan Ijazah yang semoga bisa memberikan manfaat untuk umum yang masih awam terkait hal ini.
Keterangan ini penulis dapatkan dari istifadah kepada guru guru kami diantaranya Syaikh al Muqri’ Rendra Abu Shafiyyah حفظه الله dan juga dalam karya beliau yang berjudul “Muqaddimah Sebelum Mengambil Sanad Al Qur’an”.

Sanad adalah mata rantai atau silsilah keilmuan yang didapatkan dari proses yang disebut dengan Tahamul wal Ada’.
– Tahamul : Cara seorang murid untuk mendapatkan riwayat
– Al Ada’ : Cara guru dalam memberikan riwayat
Adapun cara Tahamul ada tiga yaitu;
1. As Sama’ : mendengarkan
2. Al Qiroah : membaca
3. Ijazah : ijin dari guru
Apabila seseorang melakukan salah satu dari tiga hal tersebut atau bahkan ketiganya maka Sah sanadnya tersambung dengan gurunya. Dan diantara syarat sah sanad yang lain adalah harus tersambung dari seseorang yang bermanhaj Ahlu Sunnah wa Jama’ah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sirrin رحمه الله,
*كانوا لا يسألون عن الإسناد، فلما وقعت الفتنة قالوا : سموا لنا رجالكم، فننظر إلى أهل السنة فيؤخذ منهم، وإلى أهل البدعة فلا يؤخذ منهم*
Dahulu (para sahabat) tidak menanyakan soal sanad, sampai terjadinya fitnah (wafatnya Utsman) mereka mengatakan :
_”Tunjukkan siapa perowinya, perhatianlah apabila dia seorang Ahlu Sunnah maka ambillah, dan apabila seorang Ahlu Bid’ah maka jangan ambil sanad mereka.”_

Adapun seseorang disebut memiliki sanad Al Qur’an tatkala ia membacakan / menyetorkan Al Qur’an kepada gurunya yang juga terus bersambung hingga Rasullulah ﷺ.
Dan cara menyambungkan sanad Al Qur’an adalah dengan menyetorkan bacaan kepada guru dan bisa dilakukan dengan;
• Hafalan : Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasullulah ﷺ kepada Jibril عليه السلام
• Melihat Mushaf sebagaimana yang dituturkan oleh Zaid bin Tsabit saat mengumpulkan lembaran-lembaran Al Qur’an
*قال ابن شهاب وأخبرني خارجة بن زيد بن ثابت، سمع زيد بن ثابت قال :*
*فقدت اية من الأحزاب حين نسخنا المصحف، قد كنت أسمع رسول الله ﷺ يقرأ بها، فالتمسناها فوجدناها مع خزيمة بن ثابت الأنصاري { منَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ رِجَالࣱ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَیۡهِۖ } فألحقناها في سورتها في المصحف.*
_”Kami kehilangan satu ayat dari surah Al Ahzab saat kami menyalinnya. Sungguh aku telah mendengar langsung dari Nabi ﷺ saat beliau membacanya. Lalu kami mencarinya dan kami menemukannya pada Khuzaimah bin Tsabit (Qs. Al Ahzab : 23), maka kamipun menggabungkannya dalam mushaf.”_

Dan apakah menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang hendak mengambil sanad harus menyetorkan hafalan 30 juz sekali duduk?
Jawabannya adalah tidak, sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ yang menyetorkan bacaan Al Qur’an 1x dalam 1 bulan Romadhon kepada Jibril عليه السلام. Dan juga sabda Nabi ﷺ
*اقرأ في كل ثلاث*
_”Bacalah Al Qur’an dalam 3 hari”_

_Seandainya syarat sah menyambungkan Sanad Al Qur’an adalah dengan menyetorkan 30 juz 1x duduk, maka Rasulullah ﷺ sudah melakukan dihadapan Jibril عليه السلام._

Adapun rincian jenis Sanad Al Qur’an adalah :

1. Sanad Kamilan : Menyetorkan bacaan 30 juz
2. Sanad bi ba’dil Qur’an : Sanad tersambung satu surat atau beberapa ayat atau satu lafadz. Diantara dalilnya adalah Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dan banyak hadits diantaranya pada kisah Abu Darda’ ra,
*والذَّكَرِ والأنثى (اليل : ٣) فقال أبو الدرداء وأنا والله هكذا سمعت رسول ﷺ يقرأها، وهؤلاء يريدونني أن أقرأها “وما خلق” فلا أُتابعهم*

Lebih singkatnya Ijazah adalah legalitas dari seorang guru kepada muridnya. Biasanya diikrarkan dengan kalimat (tidak harus B. Arab)
*فأجزته إجازة صحيحة بشرطها المعتبر عند علماء الحديث والأثر*

Ijazah sendiri dibagi dua jenis :
1. Ijazah Qiroah
Hal ini adalah hadiah dari guru kepada muridnya, akan tetapi murid tidak bisa meriwayatkan kembali karena dikhawatirkan akan ada ketidaksesuaian nashataupun pemahaman karena lemahnya si murid.
2. Ijazah Qiroah wal Iqro’
Hal ini merupakan izin dari guru kepada muridnya untuk meriwayatkan kembali apa yang telah didapatkan. Biasanya ditandai dengan shigoh
*وأذنت له أن يقرأها ويقرئ بها*

Diluar daripada itu memberikan ijazah memiliki syarat yang cukup berat yaitu,
*على شرطه المعتبر عند عند علماء الحديث والأثر*
_”Dengan syarat yang muktabar disisi Ulama Ahlu Hadits dan Atsar”_
Syaikh Muhammad Habibullah Asy Syinqithy رحمه الله menjelaskan maksud syarat muktabar adalah :
1. Tatsabbut : Berhati hati dan cermat dalam lafadz yang sulit
2. Muroja’ah : Mengulang ulang kepada masyaikh yang mutqin
3. Merujuk kepada Ulama’ ketika ada masalah yang baru
4. Bersikap Wara’ dalam menjawab persoalan
Terkadang seorang Mujiz (orang yang memberi ijazah) juga memberikan syarat-syarat khusus seperti kuat hafalan, baik amalan ataupun berinfaq (sebagaimana Imam Al Harits bin Miskin kepada Imam Nasa’i) dan hal ini diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Dan yang perlu menjadi perhatian lainnya adalah *Ijazah Lisan lebih tinggi kedudukannya didalam ilmu riwayah daripada Ijazah Tulis* karena ijazah tulis berfungsi sebagai penguatan saja.
Hal ini berdasarkan sabda Rosulullah ﷺ
*استقرئوا القرآن من أربعة من عبد الله بن مسعود وسالم مولى حذيفة وأبي بن كعب ومعاذ بن جبل*
_”Ambillah bacaan Al Qur’an dari 4 orang yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Muadz bin Jabal”_

1. Sanad secara otomatis tersambung saat murid belajar kepada gurunya dengan cara yang benar. Jadi sanad tetap tersambung meskipun tidak ada ikrar dari seorang guru.
Contoh :
▪️Bacaan ikhfa’ bisa dipengaruhi oleh sifat isti’la’ dan ini kami dapatkan pertama kali dari Ust. Imaduddin & Ust. Adi Iqbal حفظهما الله
▪️Bacaan iqlab bisa dibaca dengan ithbaqusy syafah atau tarkul furjah, hal ini kami dapatkan dari Syaikh al Muqri’ Riza Alvin حفظه الله
Dua hal tersebut adalah contoh tersambungnya sanad secara lafadz.
2. Ijazah adalah ijin guru kepada muridnya untuk meriwayatkan kembali, dan ini harus diikrarkan oleh guru, serta hak mutlak seorang guru tanpa tuntutan seorang murid.
Meskipun sudah belajar dalam waktu yang lama dan sudah mengkhatamkan setoran Al Qur’an berkali-kali kepada guru tersebut, akan tetapi guru tidak memberikan ikrar pengijazahan maka murid tetap tidak memiliki ijazah yang bersambung kepada gurunya.
3. Sanad tetap tersambung meskipun tanpa Ijazah.

 

Wallahu A’lam

.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

PENGUNJUNG