SEKILAS INFO
: - Rabu, 24-01-2018
  • 1 bulan yang lalu / Agenda Akhir semester 1 ini  rihlah dari Pantai Srau Pacitan Ke Ponpes Darul Fithrah. Tanggal 11-13 Des Terkait
  • 1 bulan yang lalu / Penerimaan santri baru dimulai pada 15 Desember 2017 Terkait
  • 1 bulan yang lalu / saat ini sedang berlangsung ujian lisan dan ujian tulis Terkait

 

 قال النبي صلى الله عليه وسلم: الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت

Setelah kita mengetahui akan urgensitas mempelajari madzhab syafi’i sebagai landasan kita dalam berda’wah terkhusus untuk masyarakat indonesia, ada baiknya kita harus mempelajari apa saja yang perlu kita persiapkan sebelum masuk dalam ranah tersebut. Ya, kesiapan hati dan penghambaan yang hakiki pada Rabbul izzati. Ini sudah menjadi syarat mutlak seorang muslim yang harus dijalankan. Pilar lima yang akan membungkus kita pada pembelajaran diin yang benar dan ikhlas menjalankannya. Rukun Islam. Kalimat syahadat, Sholat, Zakat, Puasa (Shaum), dan Ibadah Haji bagi yang mampu.

Pertama, dua kalimat syahadat sebagai landasan utama seseorang bisa dikatakan muslim atau orang yang meyerahkan dirinya pada Allah ﷻ untuk taat pada apa yang diperintahkanNya dan sama sekali tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Karena hanya Dialah sesembahan yang berhak disembah serta berikrar dan meyakini dan bersaksi bahwa Rasulullah ﷺ yang bernama Muhammad. Beliau adalah kesatria Allah yang diutusNya untuk meluruskan penyimpangan makhlukNya. Membawa risalah kenabian sebagai penutup dari para nabi sebelumnya. Maka siapa saja yang meyakini bahwa ada yang lebih kuat dan berkuasa dari Allah ﷻ dan ada Nabi setelah Muhammad ﷺ, jelas bahwa dia bukan termasuk dari golongan yang Allah dan RasulNya selamatkan. Kafirlah ia dan akan medapat siksaan yang amat pedih akibat perbuatannya. Neraka Jahannam sudah menantinya untuk hadir ditengah-tengah kerumunan manusia fasiq yang tak bisa berterima kasih atas nikmat hidup yang mereka sia-siakan.

Kesaksian ini tak hanya sebatas berupa ikrar lisan dan keteguhan hati dalam meyakininya, lebih dari itu kita dituntut untuk menjalankan konsekuensi yang harus dijalankan. Bersaksi saja belum cukup untuk meyakinkan kesetiaan kita pada islam. Butuh hal lain yang memperkuatnya. Yaitu pembuktian berupa amalan. Pekerjaan apa yang tak membutuhkan konsekuensi? Bahkan hal kecil seperti berjalan saja butuh konsekuensi berupa terjatuh dan jatuh saat masih belia serta selalu mencoba sehingga tujuan utama yaitu berjalan dapat tercapai. Begitupun islam. Tanpa syari’at yang ditaati, keislamanmu seakan sia-sia dan tiada arti.

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

” Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu ” (QS. At-Tuur:56)

Kedua, sholat sebagai tiang agama yang menentukkan segala perbuatan kita apakah baik atau tidak. Jika sholatmu benar dan khusyuk bisa dipastikan amalan-amalan lain pun seperti itu. Dan bila sholatmu hanya untuk sebagai penggugur kewajiban, ketahuilah amalan lainpun tak ubahnya cerminan dari sholatmu. Sholatlah amalan yang pertama kali diperhitungkan Allah kelak di hari Kiamat. Maka perbaikilah sholatmu sesuai yang dicontohkan Rasulmu dan sertakan sunnah-sunnahnya sebagai penyempurna timbangan kebaikan apa yang kurang dalam wajibmu.

Ketiga, zakat. Rezki sudah ditetapkan kadarnya menurut keadilan Allah. Lebih kurangnya cukup disyukuri dengan banyak berterima kasih pada Allah. Selain wujud syukur berupa menerima apa yang sudah Allah berikan, Allah pun mewajibkan hambanya untuk berzakat sebagai bentuk persembahan kepadaNya.

Keempat, puasa. Bentuk amalan peningkat ketakwaan yang telah Allah ﷻ wajibkan pada hamba-hambanya terdahulu. Puasa juga mengajarkan kita untuk saling berbagi dan sama-sama merasakan akan pedihnya rasa lapar yang dirasakan para fakir miskin yang banyak dari mereka berpuasa sepanjjang hari tanpa berbuka. Agar kita lebih bisa menyayangi dan saling berbagi untuk mereka yang belum diberi kesempatan Allah dalam keluasan rejeki.

Kelima, haji bagi yang mampu. Maksud mampu disini adalah bagi mereka yang mampu dalam harta benda untuk bekal selama perjalan menuju tanah suci serta bekal bagi mereka yang ditinggalkan. Mampu juga meliputi masalah keselamatan dalam perjalanan dan jiwa raga yang sehat agar dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kekhusyu’an dan khidmat. Mereka yang masih memiliki hutang belum terbebani kewajiban ini. Sama halnya orang sakit, tua renta, sakit jiwa ataupun gila.

Itulah lima pilar islam yang wajib dilaksankan dan ditunaikan dengan sepenuhnya agar kita bisa mengawali segala yang diperintahkan Allah dengan baik dan benar. Wallahu a’lam.

Ibnu ristan

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman Terbaru

Pendaftaran Santri Baru 2018/2019 telah dibuka

PENGUNJUNG

Arsip