SEKILAS INFO
: - Sabtu, 24-07-2021
  • 11 bulan yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
IMAN DAN KETEGUHAN | Pelebur Dosa Kemaksiatan

 

 

Ramadhan akan segera tiba, hari dimana seluruh umat Muslim menjalankan puasa sebulan lamanya. Seluruh kaum Muslimin mempersiapkan kedatangannya. Mulai dari penganan khas, menu-menu sahur yang nikmat, takjil berbuka yang menggugah selera dan lain sebagainya. Ramadhan menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah mereka. Sebab, Allah menjanjikan pahala berlipat pada setiap amalan yang dikerjakan.

Kita ketahui bersama bahwa Puasa Ramadhan berbeda dengan puasa pada umumnya. Didalamnya terdapat perintah wajib bagi mukallaf (orang yang terbebani syariat) untuk menjalankannya, yang jika ditinggalkan harus mengganti di lain hari. Puasa Ramadhan juga harus disertai dengan niat ikhlas agar keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah dapat dicapai. Menghadirkan hati serta mengharap ridha allah adalah nilai jual utama yang harus kita tanamkan dalam benak kita.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا  تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan disertai dengan iman dan ihtisab maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari).

Puasa tak hanya menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, sebagai seorang Muslim dituntut untuk menghadirkan rasa keimanan dan pengharapan lebih kepada Allah ﷻ. Iman yang dimaksud dalam hadits diatas, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Jami’u al-Masa’ili adalah beriman bahwa Allah yang telah mensyariatkan puasa Ramadhan sebagai salah satu syiar-Nya, serta meyakini bahwa syariat ini adalah perintah yang dibebankan Allah kepada para hamba-Nya sebagai kewajiban yang harus dijalankan setiap Muslim. Tak hanya itu, konsekuensi dari makna iman diatas adalah ridha terhadap ketetapan Allah (puasa Ramadhan) dan menjalankannya dengan sepenuh hati.

IHTISAB

Ramadhan dijadikan Allah sebagai ladang untuk memanen lebih banyak pahala dan keberkahan. terlebih puasa yang didalamnya banyak keutamaan. Mulai dari dikabulkannya do’a pada waktu mustajab, sesaat sebelum berbuka misalnya, sebagai kafarat didunia, menjadi syafaat kelak di Akhirat, serta mendapat surga khusus bagi orang yang berpuasa (ar-Rayyan).

Dalam puasa Ramadhan, Allah juga menjanjikan ganjaran 10x lipat lebih banyak dibanding hari biasa. Seperti membaca al-Qur’an yang mulanya dicatat sebagai 10 kebaikan setiap 1 huruf, maka dibulan Ramadhan menjadi 100 kebikan. Kesemua itu tidak akan bisa kita dapatkan manakala kita tidak menanamkan rasa pengharapan (ihtisab) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits diatas.

Makna ihtisab tidak sebatas pengharapan kepada Allah saja. Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Jamiul Masail juga menjelaskan makna ihtisab adalah mengerjakannya dengan ikhlas hanya untuk Allah dan mengharap balasan berupa pahala dari-Nya. banyak umat Muslim yang berpuasa namun tak lebih dari hanya menahan lapar dan dahaga karena niat mereka dalam menjalankan puasa hanya sebatas menggugurkan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Hal itu memang sah dikerjakan, namun jika tidak disertai dengan niat yang baik serta pengharapan yang lebih akan kewajiban itu, amalan tersebut tidak memberikan pengaruh lebih kepada pelakunya.

Ampunan Tiada Tara

Menjalankan puasa disertai dengan keimanan yang mantab dan pengharapan atas ganjaran yang akan diberikan Allah akan mendatangkan rahmat Allah yang luar biasa. Bagaiamana tidak? Rasulullah mengabarkan kepada kita dalam hadits yang disebutkan di atas bahwa siapa saja yang melakukan hal serupa, maka Allah akan balas kesungguhan tersebut dengan ampunan tiada tara. Yaitu dosa yang pernah kita lakukan akibat kelalaian ataupun ketersengajaan akan dihapus oleh Allah sebab keimanan yang kita tanam dalam diri kita selama bukan perkara kesyirikan.

Mengetahui ganjaran yang akan diberikan bukan berarti kita semena-mena berbuat dosa sebelum Ramadhan dan berharap akan dihapus dosanya setelah berpuasa. Hal yang demikian akan menjadikan diri kita sombong dan meremehkan kuasa Allah. sebagaimana yang kita ketahui bahwa kematian pun tak ada yang tau pasti kapan ia akan datang. Sebab itulah Allah tetap mewajibkan hamba-Nya untuk banyak memohon ampun kepada-Nya serta menjauhi dosa meski dosa yang dilakukan ada kemungkinan akan diampuni. Sama halnya status puasa kita, tidak ada jamianan apakah puasa kita diterima sebagai puasa yang benar-benar ikhlas atau bukan.

Kembali kepada pengharapan yang tak hentinya agar Allah menerima amal kita dan dengan itu menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa.

“Wahai orang-orang yang beriman! telah diwajibkan atas kalian berpuasa seperti yang telah diwajibkan terhadap orang-orang sebelummu agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Wallahu a’lam.[IbnuRistan]

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip