SEKILAS INFO
: - Rabu, 26-01-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah

Tontonlah film, berita atau ceramah tanpa suara alias di-mute. Bagaimana rasanya? Hambar dan hampir tanpa makna. Film tanpa suara, kita tidak dapat mengetahui jalan ceritanya secara pasti, apalagi berita dan ceramah. Cobalah dibalik, dengarkanlah film, berita atau ceramah tanpa melihat. Bagaimana rasanya? Kita masih bisa mendapatkan poin-poin penting dari apa yang kita dengar.

Pendengaran merupakan nikmat utama yang Allah berikan kepada manusia. Di dalam Al-Qur’an, Allah mengutamakan pendengaran daripada penglihatan.

“Sungguh Kami ciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur, lalu kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (QS. Al Insaan: 2)

“Tetapi, Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuh, ruh ciptaan Nya. Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. Tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As Sajadah: 9)

“Tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna bagi mereka sedikitpun.” (QS. Al Ahqaaf: 26)

Lebih dari itu, tanpa pendengaran, manusia tidak akan pernah mendengar firman Allah. Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad melalui suara, bukan tulisan. Kadangkala suara Jibril sangat keras seperti lebah yang beter bangan dan kadang seperti suara manusia biasa. Pun demikian, Rasulullah menyampaikan wahyu kepada para shahabat juga melalui suara, melalui sabda, bukan tulisan.

Adalah As Sami’, nama dan sifat kepunyaan Allah yang berarti Maha Mendengar. Namun jangan samakan pendengaran Allah dengan pendengaran manusia. Allah Maha mendengar segala sesuatu. Tasbih tumbuhan, suara daun kering yang jatuh ke tanah bahkan kelebatan-kelebatan bisikan hati dan pikiran manusia. Allah mendengar bisikan Nabi Ayyub ‘alahis salam saat ditimpa musibah sakit tapi tak kuasa mengeluh dan hanya berbisik.

“Ya Rabbku, Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiyaa: 83) Itulah perbedaan pendengaran manusia yang lemah dengan sifat As Sami’ dari Dzat yang Maha Kuasa.

“Tidak ada yang semisal dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 63)

Allah mampu menjawab lebih dari yang kita minta, mampu mendengar lebih dari yang kita kira. Mendekatlah, memohonlah kepada Allah niscaya la akan mengabulkannya. Allah merindukan kita.

sumber : Majalah AN NUUR| Edisi 771

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip