SEKILAS INFO
: - Selasa, 01-03-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
Tunjukkan Aku Kuburnya !!!

عن أبي هريرة رضي الله عنه في قصة المرأة التي كانت تقم المسجد قال فسأل عنها النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا مائت فقال أفلا كنتم فكأنهم صغروا أمرها فقال دلوني على قبرها فدلوه فصلى عليها

Dari Abu Hurairah Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “la telah meninggal”. “Mengapa kalian tidak mengabari ku?” Tanya Nabi kepada sahabat nya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu Terpandang “Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah  Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholat kannya “ (Muttafaqun ‘alaihi).

Beliau adalah seorang wanita berkulit hitam yang hidup di zaman Rasulullah dengan panggilan Ummu Mahjan bukan shahabiyah yang ikut terjun ke medang jihad, bukan pula shahabiyah cerdas yang menghafal ribuan hadits, bukan, bahkan ketiadannya saja nyaris tak ada yang peduli. Amalannya pun hanya sederhana, mengumpulkan daun yang jatuh di sekitar masjid. Lalu ia bersihkan dan membuangnya ke tempat sampah. Meski begitu, Ummu Mihjan mendapat perhatian khusus dari Rasululullah, kisahnya terukir apik, terbadikan dalam lembaran kitab para ulama (Lihat: Shahih Bukhari: 1/99, Shahih Muslim: 2/659, Sunan al-Kubra lil Baihaqi: 4/77, al-ishabah fi tamyiz as-shahabah: 8/314)

Suatu malam Ummu Mihjan meninggal dunia, sebagian sahabat menyolatkan dan menguburkan tanpa memberi tahu Rasulullah. Sebabnya karena waktu itu sudah malam, para sahabat merasa segan untuk membangunkan Rasulullah.Keesokan harinya ketika ke masjid, Rasulullah kehilangan Ummu Mihjan, lalu beliau bertanya kepada para sahabat. Para sahabat mengabarkan bahwa malam tadi Ummu Mahjan telah wafat.

Rasulullah merasa sedih, beliau meminta para sahabat untuk menunjukkan dimana kuburannya. Setelah sampai, Rasulullah bergegas menyolatkan dan mendoakan disamping kubur Ummu Mihjan sebagai bentuk penghormatan terakhir beliau. Perasaan kehilangan yang dirasakan Rasulullah merupakan tanda bahwa Ummu Mihjan mendapat perhatian khusus dari Rasulullah Bayangkan, beliau adalah seorang Nabi dan Rasul sekaligus kepala negara, tentu perhatian dan kesibukannya terfokus untuk mengurus dan memikirkan urusan yang jauh lebih kompleks, daripada sekedar memperhatikan seorang wanita miskin yang memiliki kontribusi sangat kecil dibanding para sahabat lain.

Menurut Syaikh Utsaimin, berwajah ceria didepan saudara sesama mempunyai nilai kebaikan tersendiri, karena itu akan menimbul kan kebahagiaan dihati saudara kita, melapangkan dadanya, terlebih lagi apalagi diikuti ucapan-ucapan yang baik, seperti menanyakan kabar dan sebagainya (Syarh Riyadhu as Shalihin: 4/63) Sebab, berapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat, pun sebaliknya, berapa banyak amal yang besar namun menjadi kecil karena niat. Seperti Ummu Mihjan, mari terus menebar kebaikan semampu dan sebisa kita dengan hanya berharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.Wallahu a’lam bis shawab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip