SEKILAS INFO
: - Minggu, 27-03-2022
  • 1 tahun yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
Tamu Istimewa itu bernama Ramadhan

Ramadhan sudah di depan mata, tinggal menghitung jari, bulan yang mulia ini akan segera sampai ke kita. Orang Arab terdahulu biasa memuliakan tamu dengan menyambut mereka dengan berbagai macam hidangan yang memanjakan lidah tamunya. Bahkan budaya itu sudah ada dizaman nenek moyang nabi mereka Ibrahim Alaihissalam. Diceritakan di malam hari datang sekelompok laki laki datangh ke rumah nya, Ibrahim lantas menyembelih Anak sapi terbaik sebagai hidangan untuk tamu tersebut. dan betapa terkejutnya nabi Ibrahim mengetahui bahwa yang datang adalah para malaikat yang akan mengabarkan kabar gembira yaitu Lahirnya Ismail Alaihissalam.

Sebagai seorang tuan rumah, tentu kita akan berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk sang tamu, kita bahkan memberikan jamuan terbaik untuk tamu walaupun sebenarnya kondisi ekonomi kita sedang tidak menentu.

Lalu apa jadinya jika Tamu yang akan datang adalah Bulan Ramadhan yang mulia? apakah kita juga akan memuliakan dan menjamunya dengan sesuatu yang terbaik ? atau bahkan tidak menghiraukan sama sekali, seolah Ramadhan adalah bulan yang sama seperti bulan bulan lainya. Tiba tiba datang seolah seperti tamu yang tak diundang, naudzubillah.

Tamu yang datang kali ini bukanlah tamu bisa, Ia hanya datang setahun sekali untuk datang menemui kita, dan dia membawa hadiah yang sangat banyak dan melimpah kepada mereka yang memuliakanya, Apakah kita tidak ingin mengambil hadiah tersebut? padahal di dalamnya terdapat berbagai kemuliaan di dunia dan akhirat, sangat rugi sekali jika kita mengabaikan tamu tersebut tanpa adanya persiapan dan jamuan terbaik yang akan dihidangkan untuk sang tamu kita yaitu bulan Ramadhan.

Berkata Mualla ibnul Fadhl Rahimahullah,

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يدعونه ستة أشهر أن يتقبله منهم

“Dulu para salaf, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”
Lathaiful Maarif hal. 148

Lihatlah mereka para salaf begitu seriusnya mereka menjamu tamu istimewa yang akan datang dengan mempersiapkanya jauh hari sebelum datangnya ramadhan, bahkan mereka terus berdoa supaya amal yang mereka lakukan di bulan ramdhan diterima Allah SWT.

Maka dari itu alangkah baiknya kita berdoa untuk menyambut Ramadhan ini sebagaimana yang dinyatakan oleh imam Yahya bin Abi Katsir rohimahullah :

كان من دعائهم : اللهمّ سلّمني إلى رمضان, و سلّم لي رمضان, و تسلّمه منّي متقبلاً

“Diantara doa-doa mereka (para ulama sholeh terdahulu): “ Ya Allah sampaikan lah aku ke bulan Ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan untuk ku (sehingga Engkau Memberikan kemudahan kepadaku untuk bisa maksimal dalam beribadah di bulan Ramadhan), dan terimalah amal ibadahku di bulan Ramadhan ini di sisi Mu.”. (Lathoiful Maaarif, hal.264)
Semoga Allah Ta`ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, dan memudahkan kita untuk bisa maksimal dalam melaksanakan segala amal ibadah di bulan Ramadhan ini, serta menerima segala amal ibadah kita, lalu memasukkan kita ke dalam surga dan menjauhkan kita dari api neraka. Aamiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip