SEKILAS INFO
: - Jumat, 10-09-2021
  • 1 tahun yang lalu / Kajian Kitab Safinatun Najah
al-Kaafi fii Fiqhi Imam Ahmad bin Hanbal | Belajar Fikih Hanabilah dengan Perbandingan

 

RESENSI KITAB

        Judul                   : al-Kaafi fii fiqh Imam Ahmad bin Hanbal

Pengarang          : Syaikh Islam Abu Muhammad Muwafiquddin Abdullah bin Al-Maqdisi

Pentahqiq          : Zuhair As-Syaawisy

Penerbit              : al-Maktab Al-Islami

Jumlah jilid        : 4 Jilid

Tahun                 : Beirut, Cetakan ke-5 ,1998 M/1408 H

Peresensi           : Zaim Khaidar Muzaky

 

Biografi penulis :

                Ibnu Qudamah Al-Maqdisi adalah seorang imam besar pada masanya, ahli fiqih dan zuhud.Nama lengkapnya Muwafiquddin Abu Malik Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al-Maqdisi Al-Hanbali, nasabnya sampai kepada Imam Salim bin Abdillah bin Umar Al-Faqih Al-Madani.

                Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah bawahan Nablus, dekat Baitul Maqdis tanah suci di Palestina. Beliau ahli dalam berbagai bidang ilmu , terutama pada bidang ilmu fiqih yang dikuasainya dengan matang, namun beliau lebih condong kepada madhab Hanbali, terbukti banyak karangan-karangan beliau yang merujuk kepada kitab fiqih Imam Ahmad bin Hanbal. Selain seorang yang alim beliau juga seorang mujahid , terbukti dengan beliau juga ikut serta berjihad bersama Shalahuddin Al-Ayyubi dalam memerangi kaum salibis di Baitul maqdis Palestina.

                Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi juga meninggalkan karya-karya ilmiah yang banyak lagi sangat bermutu dibidang fiqih dan lainnya, diantaranya : Al-Umdah, Al-muqni, Al-Kaafi, Al-Mughni Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi, Manasik Al-Hajj dan karya beliau yang paling terkenal Minhajul Qashidin.

Imam Ibnu Qudamah wafat pada tahun 629 H. Ia dimakamkan di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, disebuah lereng di atas jami’ al-Hanabilah ( masjid besar para pengikut madhab Imam Ahmad bin Hanbal ).

Metode penulisan kitab :

Salah satu keunikan dari sistematika yang diaplikasikan oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi didalam kitab kitab ini adalah sebaran partikel ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits di dalamnya. Hampir setiap bab dalam bahasan kitab Al-Kaafi diawali dengan ayat-ayat Al-Quran atau hadits. Atau minimal di dalamnya terdapat sisipan partikel ayat yang biasa bergandeng atau beriringan dengan hadist.

Pada penulisan kitab ini, beliau merujuk kepada kitab-kitab fiqih Imam Ahmad bin Hanbal. Akan tetapi disini beliau tidak memperpanjang pembahasan dan juga tidak terlalu meringkasnya. Beliau menjelaskan dalam muqoddimah kitabnya bahwa kitabnya itu terletak di antara memperpanjang pembahasan dan terlalu meringkasnya. Beliau menjadikan buku ini sebagai perluasan kitab fiqih Imam Ahmad bin Hanbal. Maka otomatis dan tidak perlu lagi ditanyakan, kitab ini pun bermadzhab hanbali.

Beliau membagi kitab al-Kaafi menjadi empat jilid, setiap jilidnya berisi tentang bab-bab besar yang didalamnya terdapat pasal-pasal yang memisahkan antara satu pembahasan dengan pembahasan yang lain. Namun beliau tidak memberikan judul pada pasal-pasal kitab tersebut, sehingga kitab ini tidak disarankan dibaca oleh pemula. namun untuk para pengakaji ilmu fiqih empat imam madhab yang ingin mengkaji fiqih madzhab Hanbali, maka kitab ini sangat direkomendasikan, karena didalamnya terdapat muatan-muatan ilmu fiqih madhab Hanbali yang mumpuni dan lengkap. Sesuai dengan judul kitabnya yaitu al-Kaafi Fii Fiqih Imam Ahmad bin Hanbal.

Isi kitab

Dalam cakupan tema pembahasan, beliau menyusun kitabnya dengan rapih dan runtut. Pembahasannya dimulai dari apa yang kita sering berkecimpung di dalamnya. Kemudian meningkat sampai di jilid empat. sebagaimana lazimnya kitab-kitab fiqih, maka beliau memulai penyusunannya dengan pembahasan thoharoh di jilid satu. Kemudian sholat, dan yang lainnya yang termasuk rukun islam (kecuali syahadat, karna masuk ke bab iman).

Kemudian di jilid duanya adalah tentang jual beli yang mencakup akad-akad jual beli yaitu rohn, salab, salam, qordh dll. Kemudian wakaf, hibah, wasiat, faroidh, dan hal-hal yang berkaitan dengan perbudakan.

Kemudian di jilid tiga adalah tentang fikih munakahat yang mencakup pembahasan tentang mahar, khulu’, talak, dll. Kemudian juga tentang iddah, rodho’ah, nafkah, dan hadonah.

Kemudian ke jilid yang terakhir adalah tentang hukum-hukum jinayat yang mencakup diyat, qosamah, hukum ahlul baghyi, hukum penyihir, hudud, hukum-hukum jihad, yamin, hukum-hukum aqdhiyah (qodhi), kesaksian-kesaksian, dan terakhir iqror.

Kesimpulan :

Di akhir, sebagaimana yang saya paparkan di awal maka buku ini bagus sekali bagi siapa saja yang ingin memperluas wawasannya tentang fiqih empat madzhab terkhusus fiqih madzhab Hanbali. Jika dalam masalah isi, maka buku ini bagus sekali untuk dipelajari dikarenakan keilmuan penulisnya persis seperti keilmuan yang dimiliki oleh imam madzhabnya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal.

Akan tetapi saya tidak menyarankan buku ini bagi siapa yang buta akan ilmu periwayatan, karena hadist dan atsar di dalamnya kebanyakan tidak dicantumkan sumbernya dan sedikit sekali ada penjelasan kata yang gharib. Wallahu a’lam bisshowab.

                 

                 

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip